Lebaran bukan hanya momentum religius untuk merayakan kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadan, tetapi juga menjadi ruang sosial tempat masyarakat Indonesia memperkuat hubungan antarindividu. Tradisi silaturahmi yang dilakukan saat Lebaran, mulai dari mudik, saling berkunjung, hingga halal bihalal, telah menjadi bagian dari kearifan lokal yang melekat dalam budaya Nusantara. Praktik ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan mekanisme sosial yang membantu merawat rasa kebersamaan, solidaritas, dan empati antarkomunitas. Dalam konteks akademis, silaturahmi dapat dipandang sebagai bentuk investasi sosial yang memperkuat kepercayaan (trust) dan modal sosial masyarakat.
SDG 8: PEKERJAAN LAYAK DAN PERTUMBUHAN EKONOMI
Suatu sore di ruang tunggu rumah sakit, seorang ibu tampak gelisah. Ia bukan hanya cemas karena ibunya yang sudah tua yang lagi sakit, tetapi juga karena tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Petugas tampak sibuk, dokter belum datang, dan informasi yang ia terima hanya berupa nomor antrean di layar. Dalam situasi seperti itu, yang paling dibutuhkan sebenarnya bukan hanya obat, melainkan kepastian, dan kepastian lahir dari komunikasi yang baik.
Rumah sakit sering dipahami sebagai ruang medis: tempat diagnosis ditegakkan, tindakan dilakukan, dan penyakit diobati. Namun, bagi pasien dan keluarga, rumah sakit adalah ruang emosional. Di sana ada rasa takut, harapan, kebingungan, bahkan ketidakberdayaan. Karena itu, kualitas pelayanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alat atau keahlian tenaga medis, tetapi juga oleh bagaimana komunikasi pelayanan publik dijalankan.
Tahun 2024, memasuki sewindu usia peringatan Hari UMKM Nasional (Harnas UMKM). Kali pertama Harnas dilaksanakan pada 12 Agustus 2016. Momen perdana yang diikrarkan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi pondasi untuk meningkatkan eksistensi UMKM dan kinerjanya.
UMKM dan SDGs
Secara mendasar pengembangan UMKM sebagai upaya untuk mengentaskan kemiskinan. Tingkat kemiskinan di Indonesia diperkirakan mencapai 9,17 s.d 9,34% pada tahun 2024 dan angka ini menurun dari 9,36% pada 2023 (www.bps.go.id/id, 17/7/23). Upaya ini tentu tidak lepas dari bentuk komitmen bangsa Indonesia untuk berperan serta aktif mewujudkan tujuan agenda global yang tertuang dalam Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu tanpa kemiskinan.
UMKM diposisikan sebagai sektor unggulan bagi perekonomian bangsa termasuk di US dan beberapa negara di Eropa (Spickett-Jones & Eng, 2006; Zerfass & Winkler, 2016). Bila dirunut secara temporal, di Indonesia kondisi ini sudah berlangsung jauh lebih lama sebelum Harnas ditetapkan. Selain berkontribusi dalam aspek perekonomian, UMKM juga memiliki kekuatan daya serap yang tinggi terhadap tenaga kerja (Widyastuti, 2023).
Kini, peluang mengembangkan sektor UMKM semakin menggeliat dengan semaraknya pemanfaatan media berbasis internet. Bahkan secara nasional, pemerintah terus mengampanyekan transformasi digital bagi UMKM sebagai solusi memulihkan kondisi perekonomian pasca pandemi Covid-19.
Beraneka stimulan ditampilkan untuk menumbuhkan UMKM berbasis digital. Gambaran paling dekat yakni topik yg diusung pada peringatan Harnas UMKM tahun 2023, “Transformasi UMKM Masa Depan”. Melalui tema ini pemerintah mendorong UMKM bertransformasi digital dan dapat memperluas jaringan pemasaran melalui e-commerce (Wibawana, 10/08/23). Begitu juga tahun 2022 bertajuk, “UMKM Juara dengan Digital”. Tema-tema ini kemudian menjadi basis pengembangan program pemerintah di level yang lebih rendah.
Secara umum, digitalisasi bisa berperan sebagai enablers dan bisa sebagai disrupsions. Keberadaan teknologi digital mampu menawarkan fleksibilitas, kecepatan hingga akurasi. Bahkan secara real time menyajian sesuatu secara bersamaan. Di sisi lain, kondisi ini memberi dampak perubahan yang cukup massif di beberapa tatanan sistem termasuk sistem UMKM.
Pasca Pandemi Covid-19 atau setelah masa New Normal menjadi kilas balik perjalanan ulang kebangkitan segala sektor setelah banyak digoyahkan di era pandemi. Sektor Pariwisata juga banyak mengalami penurunan pengunjung saat pandemi atau bahkan tidak ada pengunjung sama sekali sehingga pas kapan demi ini menjadi kesempatan kebangkitan sektor pariwisata untuk mengembalikan kebudayaan ekonomi.
Jika akan berwisata di wilayah Jawa Tengah mungkin yang menjadi tujuan utama kebanyakan akan berada di wilayah dataran tinggi, perbukitan maupun puncak-puncak menuju pegunungan karena beberapa gunung memang berada di wilayah Jawa Tengah. berwisata ke Wilayah dataran tinggi ini masih menjadi pilihan destinasi kebanyakan wisatawan karena selain tempat yang menyejukkan juga menyuguhkan pemandangan yang tidak didapatkan di tempat lain, namun tentu saja proses akses menuju ke sana cukup menantang Selama perjalanan.

Magelang, Sabtu (10/06) Prodi Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan (PKP) Sekolah Pascasarjana UGM melakukan Studi Lapangan dan Pengabdian Masyarakat ke Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Adapun untuk lokasi spesifik yaitu Program Kampung Iklim (Proklim) yang ada di Desa Banyuroto dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bergerak dalam pengelolaan Wisata Negeri Kahyangan di Desa Wonolelo.
Kegiatan Studi Lapangan dan Pengabdian Masyarakat ini diikuti oleh 50 Peserta yang terdiri dari Mahasiswa Program Magister dan Doktor Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan, Dosen, serta tenaga pendidik (Tendik). Tujuan diadakan kegiatan ini adalah sebagai bentuk dukungan kompetensi lulusan di bidang pemberdayaan masyarakat. Mengingat para mahasiswa di Prodi Magister dan Doktor PKP ini kebanyakan berprofesi sebagai fasilitator, penyuluh, dan komunikator pembangunan, serta dosen di bidang pemberdayaan sehingga diharapkan meningkatkan kapasitas dan kapabilitas mahasiswa di bidang pemberdayaan masyarakat.