Di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan, mengelola cash flow atau arus kas pribadi menjadi keterampilan yang semakin penting. Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, cicilan, hingga pengeluaran tak terduga membuat banyak individu merasa bahwa pendapatan yang dimiliki cepat habis sebelum akhir bulan. Padahal, menjaga kesehatan keuangan bukan semata-mata ditentukan oleh besarnya penghasilan, tetapi juga oleh kemampuan mengatur arus kas secara bijak. Cash flow yang sehat berarti pengeluaran dapat dikendalikan agar tidak melebihi pendapatan, sehingga masih tersedia ruang untuk menabung, membangun dana darurat, maupun berinvestasi sesuai kemampuan. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menegaskan bahwa literasi keuangan yang baik membantu individu mengambil keputusan finansial yang lebih tepat dan meningkatkan kesejahteraan dalam jangka panjang (OECD, 2024).
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
Tuntutan pekerjaan dan pembelajaran yang semakin dinamis membuat banyak orang akrab dengan istilah burnout, overwhelmed, atau merasa “kehabisan energi”. Deadline yang datang bersamaan, tugas yang terus bertambah, hingga tuntutan untuk selalu produktif sering kali memicu stres apabila tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola diri. Dalam kondisi seperti ini, coping mechanism menjadi salah satu keterampilan hidup yang penting. Coping mechanism merupakan cara seseorang merespons dan mengelola tekanan agar tetap mampu beradaptasi tanpa mengorbankan kesehatan fisik maupun mental. Menurut World Health Organization (2024), kemampuan mengelola stres merupakan bagian penting dari kesehatan mental yang mendukung individu untuk belajar, bekerja, dan berkontribusi secara optimal di lingkungannya.
Perempuan memainkan peran yang sangat beragam dalam kehidupan sehari-hari, sebagai anak, istri, ibu, pekerja, teman, dan anggota masyarakat yang aktif. Di Indonesia khususnya, fenomena multiperan ini mencerminkan realitas sosial yang kompleks. Perempuan tidak hanya terlibat dalam dunia kerja formal, tetapi juga secara signifikan berperan dalam pekerjaan rumah tangga yang tidak dibayar. Seorang perempuan dapat berperan sebagai anak yang tetap mendukung keluarga asalnya, sekaligus menjadi istri dan ibu yang hadir bagi keluarganya sendiri, sambil tetap menjalankan tanggung jawab profesional di tempat kerja. Realitas seperti “bangun lebih pagi dari anggota keluarga lain untuk menyiapkan rumah, lalu bekerja penuh waktu, dan tetap mengurus anak di malam hari” masih banyak ditemui, terutama di wilayah perkotaan. Fenomena ini menunjukkan bahwa struktur sosial dan ekonomi menempatkan perempuan dalam peran yang luas dan kompleks, yang tidak jarang menuntut energi emosional dan fisik yang tinggi. Dari berbagai studi di Indonesia, perempuan pekerja sering mengalami kesulitan dalam membagi waktu antara pekerjaan profesional dan tanggung jawab keluarga, yang berdampak pada keseimbangan work-life mereka. Hal ini terlihat dalam laporan penelitian yang menemukan bahwa ketidakseimbangan kehidupan kerja berpengaruh pada kepuasan kerja dan kinerja perempuan dalam industri ritel dan instansi pemerintah (Rukmana & Winarno, 2023).
Limbah gadget (e-waste) telah menjadi salah satu isu lingkungan paling mendesak pada abad ke-21. Laporan Global E-Waste Monitor mencatat bahwa dunia menghasilkan sekitar 62 juta ton e-waste pada tahun 2022, dan hanya sekitar 22% yang berhasil didaur ulang melalui jalur resmi. Proyeksi menunjukkan angka ini dapat mencapai 82 juta ton pada 2030 jika pola konsumsi teknologi tidak berubah. E-waste adalah limbah kompleks yang mengandung plastik, bahan kimia, serta logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium yang dapat mencemari tanah dan air. Ironisnya, limbah ini juga menyimpan sumber daya bernilai tinggi seperti emas, tembaga, hingga rare earth elements, yang justru sering terbuang karena kurangnya fasilitas dan regulasi daur ulang yang efektif.
Dalam satu dekade terakhir, kemunculan ojek online dan layanan pesan-antar makanan telah mengubah pola hidup masyarakat Indonesia secara signifikan. Dari sekadar alat transportasi, ojek online kini menjelma menjadi bagian dari ekosistem ekonomi digital yang kompleks, melibatkan jutaan pengemudi, pelaku usaha mikro, hingga konsumen dari berbagai lapisan sosial. Fenomena ini tidak hanya merepresentasikan kemajuan teknologi informasi, tetapi juga menggambarkan dinamika pergeseran sosial-ekonomi baru yang erat kaitannya dengan upaya pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) merupakan inisiatif pemerintah untuk memastikan setiap anak Indonesia memperoleh asupan gizi yang cukup melalui penyediaan makanan sehat di sekolah. Lebih dari sekadar pemberian makan, program MBG adalah investasi jangka panjang pada kualitas sumber daya manusia. Harapannya, dengan tubuh yang sehat dan pikiran yang fokus, anak-anak dapat tumbuh optimal dan berkontribusi dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045.
Dilihat dari perspektif pembangunan berkelanjutan, program MBG menjadi sarana dalam mencapai tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama di bidang gizi, kesehatan, pendidikan, dan ketahanan ekonomi masyarakat. Secara spesifiknya berkaitan dengan SDGs 2 (Zero Hunger), SDGs 3 (Good Health and Well-being), SDGs 8 (Decent Work and Economic Growth), dan SDGs 12 (Responsible Consumption and Production). Program MBG sebenarnya bisa membantu mengurangi kelaparan tersembunyi (hidden hunger) pada anak usia sekolah dengan menyediakan makanan bergizi setiap hari. Hal ini bisa menjadi langkah penting dalam mengurangi angka malnutrisi dan stunting. Dimana dengan adanya akses gizi yang seimbang dapat meningkatkan kesehatan fisik dan mental anak, sekaligus menekan potensi penyakit akibat kekurangan nutrisi. Anak yang tidak lapar cenderung lebih mudah fokus belajar. MBG secara tidak langsung mendukung proses belajar yang produktif, menurunkan tingkat ketidakhadiran, dan meningkatkan hasil akademik. Program ini sebenarnya juga menciptakan efek ekonomi berantai melalui keterlibatan petani, nelayan, peternak, dan UMKM lokal dalam penyediaan bahan makanan. Di sisi lain, MBG dapat menjadi wadah edukasi tentang pola makan sehat dan berkelanjutan, termasuk upaya mengurangi limbah makanan dan mengoptimalkan bahan pangan lokal.
Indonesia kini menjadi pemasok penting 9% produksi kopi di dunia rerata 700 ribu ton per tahun setelah produsen Brasilia dan Vietnam (worldstatistic.net, 2024). Problematika negara-negara produsen kopi terkadang serupa namun juga dapat berbeda dan spesifik. Karakteristik identik dari Sumatra, Jawa hingga Papua mempromosikan tradisi minum kopi, gaya hidup hingga bisnis. Gelombang kopi dalam perspektif SDGs atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan mentransformasi kompleksitas masyarakat hari ini dari berbagai pemangku kepentingan kopi. Tidak hanya rantai mata pencaharian petani kopi, tetapi juga industri pemroses hingga pemasaran, infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja hingga produksi dan konsumsi dituntut untuk ramah lingkungan.
Upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) semakin nyata dengan terselenggaranya pelatihan literasi digital bagi penyuluh pertanian dan petani milenial. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Fakultas Pertanian UGM, Sekolah Pascasarjana UGM, Universitas Passau Jerman, dan UPTD BPSDMP DIY. Pelatihan bagi penyuluh dilaksanakan pada Jumat, 02 Mei 2025, sedangkan pelatihan untuk petani milenial berlangsung pada 03, 05-07 Mei 2025, bertempat di BPSDMP DIY, mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.
Rabu (16/04/25), menjadi kesempatan istimewa bagi mahasiswa S3 Prodi Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan, Sekolah Pascasarjana, UGM untuk mengikuti Kuliah Lapangan Lumbung Mataraman. Kegiatan ini diadakan sebagai upaya untuk mempersiapkan calon lulusan agar lebih siap dalam berkontribusi dalam pembangunan masyarakat berbasis inovasi, kepemimpinan, dan perubahan berkelanjutan. Kegiatan ini dilaksanakan di Kalurahan Guwosari, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul, DIY.
Lumbung Mataraman adalah program yang digagas untuk mendorong kemandirian pangan masyarakat sebagai antisipasi krisis angan. Lumbung Mataraman menjadi contoh nyata implementasi inovasi pertanian berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat, serta kepemimpinan berbasis kearifan lokal. Pemberdayaan masyarakat di Lumbung Mataraman bertujuan untuk membagikan pengetahuan (transfer knowledge) dengan melihat representatif masyarakat melalui kemitraan bersama dalam membangun ketahanan pangan menuju generasi emas. Selama mengikuti kuliah lapangan, mahasiswa diajak untuk mengobservasi inovasi, strategi komunikasi pembangunan, proses transformasi, resiliensi, dan perubahan masyarakat dengan adanya inovasi dan pengelolaan Lumbung Mataraman. Selain itu, mahasiswa juga diajak untuk menganalisis keberhasilan dan tantangan pengelolaan sumber daya lokal serta ketahanan pangan berbasis komunitas.
Setiap menjelang hari raya, fenomena pemulung dan pengemis musiman kembali menjadi sorotan publik karena jumlahnya yang tiba-tiba meningkat di berbagai kota besar di Indonesia. Mereka datang dari berbagai daerah, bermigrasi ke kota-kota besar dengan harapan memperoleh sedekah dari masyarakat yang sedang merayakan hari kemenangan. Meskipun hal ini tampak sebagai fenomena sosial tahunan, keberadaan mereka menimbulkan dilema sosial dan kebijakan, khususnya dalam konteks urbanisasi, kesejahteraan, dan pengelolaan ruang kota. Fenomena ini tidak hanya menyangkut aspek sosial dan ekonomi, tetapi juga beririsan langsung dengan upaya pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan 1 (tanpa kemiskinan), tujuan 8 (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi), dan tujuan 11 (kota dan permukiman yang berkelanjutan). Perlu dilakukan analisis mengenai penyebab dan dampak dari fenomena ini serta rekomendasi kebijakan berbasis SDGs untuk penanganannya.