Kemarau panjang mungkin terdengar seperti persoalan yang sederhana, seperti curah hujan berkurang, udara terasa lebih panas, dan musim hujan dinanti-nanti kedatangannya. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara musim kemarau, kenaikan suhu, dan perubahan lingkungan menjadi semakin kompleks. Indonesia kembali menghadapi kondisi kering yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Pada awal September 2026, kebakaran bahkan dilaporkan meluas di sejumlah kawasan hutan dan lahan gambut, dengan emisi kebakaran Indonesia pada 1–7 September mencapai sekitar 19,7 juta ton karbon dioksida menurut data Fire Emissions Watch yang disampaikan oleh (Stanway et al., 2026). Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan kebakaran hutan bukan hanya tentang api yang terlihat di permukaan, tetapi juga tentang dampaknya terhadap kualitas udara, kesehatan, ekosistem, dan emisi karbon.
SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim
Danau Kerinci adalah danau di Provinsi Jambi. Sekarang danau yang biasanya menjadi primadona pariwisata dan pemasok ikan air tawar terbesar di Provinsi Jambi ini, menjadi sekarat menyisakan cerita. Fenomena menyusutnya permukaan air Danau Kerinci sejak akhir Januari 2026 memberi dampak yang luar biasa bagi masyarakat, khususnya petani dan nelayan. Namun apakah kejadian ini murni bencana alam, atau justru akumulasi dari kesalahan manusia? Atau kegagalan manusia menangkap informasi, merespon, dan mengkomunikasikan aspek lingkungan pada kehidupan sehari-hari?
Alam selalu dikambing hitamkan jika sebuah bencana terjadi di suatu daerah. Alam selalu diposisikan penyebab atas terjadinya faktor tunggal, sehingga tanggung jawab manusia seolah-olah dihapus dari narasi dominan. Bahkan belakangan ini, PLTA ikut disorot dan diasumsikan penyebab tunggal fenomena ini.
Dalam beberapa dekade terakhir, kopi telah bergeser. Bukan hanya sekadar “minuman” tetapi sudah menjadi fenomena budaya dan gaya hidup urban yang kuat. Pertumbuhan coffee shop di kota-kota besar mencerminkan perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan. Kedai kopi saat ini berfungsi sebagai ruang interaksi sosial, tempat kerja alternatif, hingga arena kreativitas bagi pekerja kreatif, mahasiswa, dan generasi muda yang mencari pengalaman berbeda dari sekadar konsumsi kopi biasa. Fenomena ini menggambarkan bahwa kopi sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari ritme kehidupan masyarakat perkotaan dan simbol gaya hidup modern.
Masalah sampah plastik terus menjadi sorotan global. Plastik sekali pakai, terutama botol dan kemasan air, telah mengakumulasi dampak lingkungan jangka panjang, seperti: polusi di darat dan laut, beban tambahan bagi tempat pembuangan akhir (TPA), serta konsumsi sumber daya dan energi yang besar dalam produksi. Salah satu solusi sederhana namun berdampak nyata adalah penggunaan tumbler atau botol minum/wadah minum yang dapat dipakai ulang.
Beberapa penelitian dan program di Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan tumbler dapat secara signifikan mengurangi sampah plastik. Dewasa ini tumbler bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan dapat menjadi representasi perubahan perilaku konsumsi menuju keberlanjutan.
Limbah gadget (e-waste) telah menjadi salah satu isu lingkungan paling mendesak pada abad ke-21. Laporan Global E-Waste Monitor mencatat bahwa dunia menghasilkan sekitar 62 juta ton e-waste pada tahun 2022, dan hanya sekitar 22% yang berhasil didaur ulang melalui jalur resmi. Proyeksi menunjukkan angka ini dapat mencapai 82 juta ton pada 2030 jika pola konsumsi teknologi tidak berubah. E-waste adalah limbah kompleks yang mengandung plastik, bahan kimia, serta logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium yang dapat mencemari tanah dan air. Ironisnya, limbah ini juga menyimpan sumber daya bernilai tinggi seperti emas, tembaga, hingga rare earth elements, yang justru sering terbuang karena kurangnya fasilitas dan regulasi daur ulang yang efektif.
Diabetes melitus atau diabetes tipe 2 menjadi epidemi global yang kini marak terjadi dan tidak memandang usia. Diabetes ini merupakan kondisi kronis yang terjadi karena tubuh tidak dapat menggunakan insulin dengan benar sehingga kadar gula darah meningkat. Penyakit ini sering terjadi tanpa gejala yang mencolok di awal. Bahkan, diabetes sering kali tidak terdiagnosis hingga menyebabkan komplikasi serius seperti kerusakan ginjal, kebutaan, bahkan amputasi.

Di Indonesia, berdasarkan data dari Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat (Pusinfokesmas) FKMUI menunjukkan bahwa prevalensi diabetes meningkat signifikan setiap tahun. Penyebabnya adalah pola hidup yang minim aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, tinggi konsumsi makanan olahan, faktor keturunan, ataupun stres kronis. Survei Kemenkes menunjukkan bahwa lebih dari 33% masyarakat Indonesia kurang beraktivitas fisik, menjadikan mereka rentan terhadap penyakit metabolik. Di tengah kekhawatiran ini, muncul sebuah fenomena sederhana namun berdampak besar yaitu gerakan 5000 langkah per hari sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Gerakan ini bukan hanya menjadi langkah kecil sebagai upaya pencegahan terhadap diabetes, tetapi juga sejalan dengan visi global untuk membangun masyarakat yang lebih sehat dan berkelanjutan melalui tujuan Sustainable Development Goals (SDGs).
Di era digital saat ini, pertanian bukan lagi sekadar soal menanam dan panen. Teknologi dan informasi telah mengubah wajah pertanian menjadi lebih modern dan efisien. Namun, bagaimana dengan para penyuluh pertanian yang menjadi ujung tombak dalam membawa perubahan ini ke tingkat petani? Literasi digital menjadi kunci untuk memastikan bahwa mereka tidak hanya memahami, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi secara maksimal.
Pentingnya Literasi Digital bagi Penyuluh Pertanian
Penyuluh pertanian memiliki peran penting sebagai penghubung antara pengetahuan teknis dan praktik di lapangan. Namun, di tengah arus perkembangan teknologi, banyak penyuluh yang masih menghadapi tantangan dalam mengadopsi teknologi digital. Literasi digital tidak hanya tentang kemampuan menggunakan perangkat, tetapi juga mencakup pemahaman, komunikasi, dan penerapan informasi digital dalam pekerjaan sehari-hari.