Dalam beberapa dekade terakhir, kopi telah bergeser. Bukan hanya sekadar “minuman” tetapi sudah menjadi fenomena budaya dan gaya hidup urban yang kuat. Pertumbuhan coffee shop di kota-kota besar mencerminkan perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan. Kedai kopi saat ini berfungsi sebagai ruang interaksi sosial, tempat kerja alternatif, hingga arena kreativitas bagi pekerja kreatif, mahasiswa, dan generasi muda yang mencari pengalaman berbeda dari sekadar konsumsi kopi biasa. Fenomena ini menggambarkan bahwa kopi sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari ritme kehidupan masyarakat perkotaan dan simbol gaya hidup modern.
SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim
Dalam era digital yang terus berkembang, buku tidak lagi hanya hadir dalam bentuk cetak tradisional. Buku digital (e-book) telah menjadi bagian penting dari ekosistem pengetahuan global, menawarkan akses cepat dan portabilitas tinggi. Namun, perdebatan mengenai kelebihan dan kekurangan antara buku digital dan buku fisik juga semakin menguat, mencakup aspek pembelajaran, dampak lingkungan, serta kontribusinya terhadap target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 12 (Konsumsi & Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDG 13 (Aksi Iklim) dan SDG 15 (Ekosistem Darat).
Seiring meningkatnya urbanisasi, kebutuhan terhadap sistem transportasi yang efisien, ramah lingkungan, dan inklusif menjadi krusial tidak hanya untuk mobilitas sehari-hari masyarakat, tetapi juga untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan tahun 2030. Dalam hal ini, transportasi umum menjadi salah satu pilar penting dalam pembangunan perkotaan berkelanjutan. Transportasi berkontribusi secara langsung pada pencapaian SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), yakni menyediakan akses terhadap sistem transportasi yang aman, terjangkau, mudah diakses, dan berkelanjutan untuk semua lapisan masyarakat. Selain itu, pengembangan transportasi umum yang berkelanjutan juga berdampak positif terhadap tujuan lain, seperti SDG 13 (Climate Action), SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure), dan SDG 3 (Good Health and Well-Being).
Masalah sampah plastik terus menjadi sorotan global. Plastik sekali pakai, terutama botol dan kemasan air, telah mengakumulasi dampak lingkungan jangka panjang, seperti: polusi di darat dan laut, beban tambahan bagi tempat pembuangan akhir (TPA), serta konsumsi sumber daya dan energi yang besar dalam produksi. Salah satu solusi sederhana namun berdampak nyata adalah penggunaan tumbler atau botol minum/wadah minum yang dapat dipakai ulang.
Beberapa penelitian dan program di Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan tumbler dapat secara signifikan mengurangi sampah plastik. Dewasa ini tumbler bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan dapat menjadi representasi perubahan perilaku konsumsi menuju keberlanjutan.
Limbah gadget (e-waste) telah menjadi salah satu isu lingkungan paling mendesak pada abad ke-21. Laporan Global E-Waste Monitor mencatat bahwa dunia menghasilkan sekitar 62 juta ton e-waste pada tahun 2022, dan hanya sekitar 22% yang berhasil didaur ulang melalui jalur resmi. Proyeksi menunjukkan angka ini dapat mencapai 82 juta ton pada 2030 jika pola konsumsi teknologi tidak berubah. E-waste adalah limbah kompleks yang mengandung plastik, bahan kimia, serta logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium yang dapat mencemari tanah dan air. Ironisnya, limbah ini juga menyimpan sumber daya bernilai tinggi seperti emas, tembaga, hingga rare earth elements, yang justru sering terbuang karena kurangnya fasilitas dan regulasi daur ulang yang efektif.
Diabetes melitus atau diabetes tipe 2 menjadi epidemi global yang kini marak terjadi dan tidak memandang usia. Diabetes ini merupakan kondisi kronis yang terjadi karena tubuh tidak dapat menggunakan insulin dengan benar sehingga kadar gula darah meningkat. Penyakit ini sering terjadi tanpa gejala yang mencolok di awal. Bahkan, diabetes sering kali tidak terdiagnosis hingga menyebabkan komplikasi serius seperti kerusakan ginjal, kebutaan, bahkan amputasi.

Di Indonesia, berdasarkan data dari Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat (Pusinfokesmas) FKMUI menunjukkan bahwa prevalensi diabetes meningkat signifikan setiap tahun. Penyebabnya adalah pola hidup yang minim aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, tinggi konsumsi makanan olahan, faktor keturunan, ataupun stres kronis. Survei Kemenkes menunjukkan bahwa lebih dari 33% masyarakat Indonesia kurang beraktivitas fisik, menjadikan mereka rentan terhadap penyakit metabolik. Di tengah kekhawatiran ini, muncul sebuah fenomena sederhana namun berdampak besar yaitu gerakan 5000 langkah per hari sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Gerakan ini bukan hanya menjadi langkah kecil sebagai upaya pencegahan terhadap diabetes, tetapi juga sejalan dengan visi global untuk membangun masyarakat yang lebih sehat dan berkelanjutan melalui tujuan Sustainable Development Goals (SDGs).
Di era digital saat ini, pertanian bukan lagi sekadar soal menanam dan panen. Teknologi dan informasi telah mengubah wajah pertanian menjadi lebih modern dan efisien. Namun, bagaimana dengan para penyuluh pertanian yang menjadi ujung tombak dalam membawa perubahan ini ke tingkat petani? Literasi digital menjadi kunci untuk memastikan bahwa mereka tidak hanya memahami, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi secara maksimal.
Pentingnya Literasi Digital bagi Penyuluh Pertanian
Penyuluh pertanian memiliki peran penting sebagai penghubung antara pengetahuan teknis dan praktik di lapangan. Namun, di tengah arus perkembangan teknologi, banyak penyuluh yang masih menghadapi tantangan dalam mengadopsi teknologi digital. Literasi digital tidak hanya tentang kemampuan menggunakan perangkat, tetapi juga mencakup pemahaman, komunikasi, dan penerapan informasi digital dalam pekerjaan sehari-hari.
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya hidup selaras dengan alam? Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba cepat, ada sekelompok masyarakat di Timor Barat yang masih menjaga hubungan sakral dengan alam. Mereka adalah Atoin Meto. Istilah “Atoin Meto” terdiri dari dua kata: Atoin yang berarti laki-laki atau manusia dan Meto yang bermakna kering. Dalam konteks ini, Atoin Meto merujuk pada penduduk atau manusia yang mendiami “tanah kering” atau “daratan” sesuai dengan karakteristik geografis Pulau Timor yang
cenderung kering selama musim kemarau (Middelkoop, 1982 dalam Ataupah H 2020; Silab, Kanahebi, and Bessie 1997). Dengan demikian, etnis Atoin Meto mengacu pada kelompok masyarakat yang tinggal di wilayah daratan dengan kondisi lingkungan yang relatif kering. Suku ini hidup dengan mempraktikkan pertanian berkelanjutan melalui ritual dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun selama berabad-abad.