Dalam kehidupan sehari-hari, sabun mandi, sampo, odol, dan deterjen adalah produk yang tak bisa dipisahkan dari rutinitas kebersihan pribadi dan rumah tangga. Namun, penggunaan yang berlebihan atau pembuangan limbah yang kurang tepat justru dapat berdampak negatif pada lingkungan, terutama pada kualitas air dan tanah. Zat-zat aktif dalam produk-produk ini, seperti surfaktan dalam deterjen, telah terbukti dapat menurunkan kualitas air dan oksigen terlarut di perairan; bahkan pada kondisi tertentu dapat memicu eutrofikasi yang membahayakan organisme air dan keseimbangan ekosistem. Studi literatur menunjukkan limbah deterjen dapat meningkatkan nilai BOD (Biochemical Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand) hingga tiga kali lipat, serta berkontribusi menurunkan oksigen terlarut yang vital bagi kehidupan akuatik. Dampaknya tidak hanya pada ekosistem, tetapi perubahan ini juga memiliki implikasi pada kesehatan masyarakat seperti iritasi kulit dan gangguan pernapasan ketika paparan terhadap limbah tidak diolah dengan benar (Sofian, 2025).
SDGs 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak
Danau Kerinci adalah danau di Provinsi Jambi. Sekarang danau yang biasanya menjadi primadona pariwisata dan pemasok ikan air tawar terbesar di Provinsi Jambi ini, menjadi sekarat menyisakan cerita. Fenomena menyusutnya permukaan air Danau Kerinci sejak akhir Januari 2026 memberi dampak yang luar biasa bagi masyarakat, khususnya petani dan nelayan. Namun apakah kejadian ini murni bencana alam, atau justru akumulasi dari kesalahan manusia? Atau kegagalan manusia menangkap informasi, merespon, dan mengkomunikasikan aspek lingkungan pada kehidupan sehari-hari?
Alam selalu dikambing hitamkan jika sebuah bencana terjadi di suatu daerah. Alam selalu diposisikan penyebab atas terjadinya faktor tunggal, sehingga tanggung jawab manusia seolah-olah dihapus dari narasi dominan. Bahkan belakangan ini, PLTA ikut disorot dan diasumsikan penyebab tunggal fenomena ini.
Air bersih merupakan sumber kehidupan yang esensial bagi seluruh makhluk hidup tanpa kecuali. Selain air bersih, sanitasi yang layak juga menjadi komponen krusial dalam kehidupan dan tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan. Kemudahan akses terhadap sumber daya ini tidak hanya meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial. Menurut Bank Dunia, masih ada sekitar 780 juta orang di seluruh dunia yang tidak memiliki akses terhadap air bersih dan lebih dari 2 milyar orang tidak memiliki akses terhadap sanitasi yang layak. Terbatasnya akses terhadap air bersih dan sanitasi menjadi masalah serius yang berdampak besar pada kesehatan. Ketidakcukupan akses tersebut menyebabkan munculnya penyakit menular seperti diare yang jika tidak ditangani dengan baik dapat berujung pada kematian.