Tradisi pertanian masyarakat Jawa kembali mendapatkan ruang napas baru melalui program Lumbung Mataraman yang kini digalakkan di berbagai wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Berakar dari sistem lumbung desa pada abad ke-17 pada masa Kesultanan Mataram Islam, konsep ini kembali dihidupkan sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian masyarakat di tengah berbagai tantangan.
Tim peneliti Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada yang beranggotakan Prof. Dr. Partini, S.U, Dr. agr. Sri Peni Wastutiningsih, Yunindya Palarani dan M. Irsyad Najibullah melakukan riset seputar Lumbung Mataraman di Kabupaten Bantul. Penelitian yang berjudul “Transformasi Kelembagaan Lumbung Mataraman untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan di Kabupaten Bantul” ini adalah bentuk implikasi nyata pilar kedua tri dharma perguruan tinggi, yakni penelitian.

Riset yang dilakukan di Kalurahan Guwosari dan Kalurahan Sriharjo sejak April hingga September 2025, didasari oleh perubahan kebijakan Lumbung Mataraman yang awalnya menggunakan lahan pekarangan rumah, berkembang menjadi pemanfaatan tanah desa untuk program ketahanan pangan lokal.
Lumbung Mataraman pada masa lampau berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi dan cadangan pangan. Namun, pemerintah daerah bersama kelompok masyarakat mengembangkan kembali konsep itu dengan pendekatan modern. Program Lumbung Mataraman tidak lagi menekankan penyimpanan hasil panen, akan tetapi memanfaatkan lahan dan kawasan pertanian, diversifikasi tanaman pangan lokal, peternakan, perikanan, serta pemberdayaan masyarakat dan kelompok, baik kelompok tani maupun kelompok wanita tani.
“Supaya program ini (Lumbung Mataraman) tetap berjalan dan berkembang, strategi yang kami lakukan adalah tentu konsolidasi antar lembaga bu, supaya kami dapat memperluas lagi jangkauan unit usahanya, kami ingin pengembangan produk pertanian bisa terdistribusi secara luas, dan agrowisata dan ekowisata yang akan kami kembangkan bisa terealisasi” tambah Ibu Lilik, Lurah Sriharjo.
Selain bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan, aktivitas yang dilakukan masyarakat di kawasan Lumbung Mataraman juga sejalan dengan beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama Tanpa Kemiskian (SDGs 1), Tanpa kelaparan (SDGs 2), dan Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (SDGs 12). Lumbung Mataraman membantu masyarakat desa meningkatkan perekonomian lokal, sebagai cadangan pangan saat paceklik, musim kering, atau harga pangan melonjak, serta mengajarkan masyarakat untuk memproduksi pangan sesuai kebutuhan dan menghindari pemborosan.
Reviewer: Tim Prodi PKP Pascasarjana UGM