Dalam era digital yang terus berkembang, buku tidak lagi hanya hadir dalam bentuk cetak tradisional. Buku digital (e-book) telah menjadi bagian penting dari ekosistem pengetahuan global, menawarkan akses cepat dan portabilitas tinggi. Namun, perdebatan mengenai kelebihan dan kekurangan antara buku digital dan buku fisik juga semakin menguat, mencakup aspek pembelajaran, dampak lingkungan, serta kontribusinya terhadap target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 12 (Konsumsi & Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDG 13 (Aksi Iklim) dan SDG 15 (Ekosistem Darat).
Buku digital menawarkan kemudahan akses, seperti dapat dibawa dalam satu perangkat dan diunduh kapan saja. Sehingga mendukung peningkatan literasi di era digital. Penggunaan buku digital telah terbukti dapat meningkatkan keterampilan literasi dasar, terutama bagi pembelajar awal dan peserta didik dengan kebutuhan khusus, dengan fitur seperti narasi otomatis dan audio visual yang memperkaya pengalaman belajar. Namun, ada penelitian lain menunjukkan bahwa buku fisik tetap memiliki keunggulan dalam aspek pemahaman dan fokus bacaan. Pada penelitian yang dilakukan oleh Widjaja dan Kasih (2025), pembaca buku cetak cenderung mengalami peningkatan pemahaman yang lebih baik karena tidak terdistraksi oleh fitur lain di perangkat digital. Keunggulan ini penting dalam konteks pendidikan formal dimana komprehensi dan retensi informasi menjadi kunci keberhasilan pembelajaran.

Di sisi lain, buku digital mengurangi kebutuhan akan kertas dan distribusi fisik, sehingga dapat menghemat sumber daya dan emisi. Namun, e-book bergantung pada perangkat elektronik yang memerlukan mineral langka dan energi listrik, serta berpotensi menjadi limbah elektronik (e-waste). Studi menunjukkan bahwa dampak lingkungan dari satu perangkat e-reader setara dengan sekitar 20–40 buku cetak dalam hal emisi karbon selama siklus hidupnya; setelah membaca cukup banyak buku melalui perangkat tersebut, digital bisa menjadi pilihan lebih ramah lingkungan (Suhler, 2023). Kontribusi buku digital terhadap pengurangan penggunaan kertas juga selaras dengan SDG 12 tentang pola konsumsi dan produksi yang lebih berkelanjutan, serta SDG 13 yang mendorong pengurangan dampak perubahan iklim melalui inovasi teknologi ramah lingkungan.
Integrasi buku digital dalam sistem pendidikan dapat memperluas akses sumber belajar, terutama di daerah terpencil dengan keterbatasan akses buku fisik. Hal ini mendukung target SDG 4 untuk memastikan akses pendidikan yang inklusif dan setara bagi semua usia. Digitalisasi bahan bacaan memberi peluang bagi pembelajaran fleksibel dan personalisasi, yang bisa mengangkat kualitas pendidikan secara keseluruhan. Dapat disimpulkan juga bahwa baik buku digital maupun buku fisik memiliki peran penting dalam pembangunan pengetahuan masyarakat dan pencapaian SDGs. Buku digital unggul dalam hal aksesibilitas dan efisiensi sumber daya untuk pembaca dalam jumlah besar, sedangkan buku fisik memberikan pengalaman membaca yang mendalam dan dapat memperkuat pemahaman.
Penulis dan Reviewer: Tim Prodi PKP Pascasarjana UGM