Dalam beberapa dekade terakhir, kopi telah bergeser. Bukan hanya sekadar “minuman” tetapi sudah menjadi fenomena budaya dan gaya hidup urban yang kuat. Pertumbuhan coffee shop di kota-kota besar mencerminkan perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan. Kedai kopi saat ini berfungsi sebagai ruang interaksi sosial, tempat kerja alternatif, hingga arena kreativitas bagi pekerja kreatif, mahasiswa, dan generasi muda yang mencari pengalaman berbeda dari sekadar konsumsi kopi biasa. Fenomena ini menggambarkan bahwa kopi sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari ritme kehidupan masyarakat perkotaan dan simbol gaya hidup modern.
Dalam era digital yang terus berkembang, buku tidak lagi hanya hadir dalam bentuk cetak tradisional. Buku digital (e-book) telah menjadi bagian penting dari ekosistem pengetahuan global, menawarkan akses cepat dan portabilitas tinggi. Namun, perdebatan mengenai kelebihan dan kekurangan antara buku digital dan buku fisik juga semakin menguat, mencakup aspek pembelajaran, dampak lingkungan, serta kontribusinya terhadap target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 12 (Konsumsi & Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDG 13 (Aksi Iklim) dan SDG 15 (Ekosistem Darat).
Seiring meningkatnya urbanisasi, kebutuhan terhadap sistem transportasi yang efisien, ramah lingkungan, dan inklusif menjadi krusial tidak hanya untuk mobilitas sehari-hari masyarakat, tetapi juga untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan tahun 2030. Dalam hal ini, transportasi umum menjadi salah satu pilar penting dalam pembangunan perkotaan berkelanjutan. Transportasi berkontribusi secara langsung pada pencapaian SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), yakni menyediakan akses terhadap sistem transportasi yang aman, terjangkau, mudah diakses, dan berkelanjutan untuk semua lapisan masyarakat. Selain itu, pengembangan transportasi umum yang berkelanjutan juga berdampak positif terhadap tujuan lain, seperti SDG 13 (Climate Action), SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure), dan SDG 3 (Good Health and Well-Being).
Yogyakarta, 12 Desember 2025 – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari Program Studi S3 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) telah menuntaskan rangkaian program pendampingan yang selama tiga tahun intensif dilaksanakan di Kampung Wisata Cokrodiningratan, Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta. Program PkM yang diketuai oleh Ratih Ineke Wati, S.P., M.Agr., Ph.D. dengan bertajuk “Transformasi Lingkungan Perkotaan melalui Pendekatan Produktif Pertanian Berbasis Gender” ini merupakan sebuah upaya strategis untuk memperkuat kluster ekowisata sekaligus mendukung ketahanan pangan berbasis komunitas.
Yogyakarta, 10 Desember 2025 – Di tengah kompleksitas masalah sosial yang dihadapi masyarakat saat ini, pendekatan konvensional sering kali tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan di lapangan. Memahami urgensi tersebut, Program Studi Magister dan Doktor Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan (PKP) Sekolah Pascasarjana UGM menyelenggarakan pelatihan intensif bertajuk “Design Thinking untuk Pemberdayaan Masyarakat”. Bertempat di Hotel Harper Malioboro Yogyakarta, kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 16.00 WIB ini menghadirkan praktisi inovasi sosial, Dr. Ir. Dwi Purnomo, STP., M.T., IPU., ASEAN Eng., pendiri The Local Enablers. Acara ini diikuti secara antusias oleh mahasiswa S2 dan S3 PKP UGM sebagai upaya mencetak agen perubahan yang adaptif.
Tradisi pertanian masyarakat Jawa kembali mendapatkan ruang napas baru melalui program Lumbung Mataraman yang kini digalakkan di berbagai wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Berakar dari sistem lumbung desa pada abad ke-17 pada masa Kesultanan Mataram Islam, konsep ini kembali dihidupkan sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian masyarakat di tengah berbagai tantangan.
Tim peneliti Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada yang beranggotakan Prof. Dr. Partini, S.U, Dr. agr. Sri Peni Wastutiningsih, Yunindya Palarani dan M. Irsyad Najibullah melakukan riset seputar Lumbung Mataraman di Kabupaten Bantul. Penelitian yang berjudul “Transformasi Kelembagaan Lumbung Mataraman untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan di Kabupaten Bantul” ini adalah bentuk implikasi nyata pilar kedua tri dharma perguruan tinggi, yakni penelitian.
Masalah sampah plastik terus menjadi sorotan global. Plastik sekali pakai, terutama botol dan kemasan air, telah mengakumulasi dampak lingkungan jangka panjang, seperti: polusi di darat dan laut, beban tambahan bagi tempat pembuangan akhir (TPA), serta konsumsi sumber daya dan energi yang besar dalam produksi. Salah satu solusi sederhana namun berdampak nyata adalah penggunaan tumbler atau botol minum/wadah minum yang dapat dipakai ulang.
Beberapa penelitian dan program di Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan tumbler dapat secara signifikan mengurangi sampah plastik. Dewasa ini tumbler bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan dapat menjadi representasi perubahan perilaku konsumsi menuju keberlanjutan.
Limbah gadget (e-waste) telah menjadi salah satu isu lingkungan paling mendesak pada abad ke-21. Laporan Global E-Waste Monitor mencatat bahwa dunia menghasilkan sekitar 62 juta ton e-waste pada tahun 2022, dan hanya sekitar 22% yang berhasil didaur ulang melalui jalur resmi. Proyeksi menunjukkan angka ini dapat mencapai 82 juta ton pada 2030 jika pola konsumsi teknologi tidak berubah. E-waste adalah limbah kompleks yang mengandung plastik, bahan kimia, serta logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium yang dapat mencemari tanah dan air. Ironisnya, limbah ini juga menyimpan sumber daya bernilai tinggi seperti emas, tembaga, hingga rare earth elements, yang justru sering terbuang karena kurangnya fasilitas dan regulasi daur ulang yang efektif.
Perdagangan pakaian impor, khususnya pakaian bekas, telah menjadi bagian signifikan dari dinamika ekonomi global dan pola konsumsi masyarakat di negara berkembang. Pakaian bekas impor umumnya berasal dari proses donasi massal, pusat daur ulang tekstil, toko retail yang menyisakan deadstock, serta gudang penyalur barang non sortir dari negara-negara maju. Dalam rantai distribusi yang panjang ini, pakaian dikumpulkan dari berbagai sumber, disortir berdasarkan kualitas, kemudian dikompresi menjadi bal-bal besar sebelum dikirim ke negara tujuan. Kompleksitas rantai pasok tersebut menyebabkan asal-usul setiap pakaian sulit dilacak secara individual, sehingga aspek higienitas dan keamanan produk menjadi isu yang perlu dikaji secara ilmiah.
Dalam satu dekade terakhir, kemunculan ojek online dan layanan pesan-antar makanan telah mengubah pola hidup masyarakat Indonesia secara signifikan. Dari sekadar alat transportasi, ojek online kini menjelma menjadi bagian dari ekosistem ekonomi digital yang kompleks, melibatkan jutaan pengemudi, pelaku usaha mikro, hingga konsumen dari berbagai lapisan sosial. Fenomena ini tidak hanya merepresentasikan kemajuan teknologi informasi, tetapi juga menggambarkan dinamika pergeseran sosial-ekonomi baru yang erat kaitannya dengan upaya pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).