Upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) semakin nyata dengan terselenggaranya pelatihan literasi digital bagi penyuluh pertanian dan petani milenial. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Fakultas Pertanian UGM, Sekolah Pascasarjana UGM, Universitas Passau Jerman, dan UPTD BPSDMP DIY. Pelatihan bagi penyuluh dilaksanakan pada Jumat, 02 Mei 2025, sedangkan pelatihan untuk petani milenial berlangsung pada 03, 05-07 Mei 2025, bertempat di BPSDMP DIY, mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.
SDGs
Diabetes melitus atau diabetes tipe 2 menjadi epidemi global yang kini marak terjadi dan tidak memandang usia. Diabetes ini merupakan kondisi kronis yang terjadi karena tubuh tidak dapat menggunakan insulin dengan benar sehingga kadar gula darah meningkat. Penyakit ini sering terjadi tanpa gejala yang mencolok di awal. Bahkan, diabetes sering kali tidak terdiagnosis hingga menyebabkan komplikasi serius seperti kerusakan ginjal, kebutaan, bahkan amputasi.

Di Indonesia, berdasarkan data dari Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat (Pusinfokesmas) FKMUI menunjukkan bahwa prevalensi diabetes meningkat signifikan setiap tahun. Penyebabnya adalah pola hidup yang minim aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, tinggi konsumsi makanan olahan, faktor keturunan, ataupun stres kronis. Survei Kemenkes menunjukkan bahwa lebih dari 33% masyarakat Indonesia kurang beraktivitas fisik, menjadikan mereka rentan terhadap penyakit metabolik. Di tengah kekhawatiran ini, muncul sebuah fenomena sederhana namun berdampak besar yaitu gerakan 5000 langkah per hari sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Gerakan ini bukan hanya menjadi langkah kecil sebagai upaya pencegahan terhadap diabetes, tetapi juga sejalan dengan visi global untuk membangun masyarakat yang lebih sehat dan berkelanjutan melalui tujuan Sustainable Development Goals (SDGs).
Keluarga merupakan struktur lapisan masyarakat terkecil dan yang utama. Pergeseran dalam dinamika keluarga karena adanya perubahan sosial memunculkan peran baru perempuan sebagai kepala keluarga. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (2023) tentang Data Perempuan Kepala Keluarga berdasarkan Wilayah Tahun 2017 – 2023, perempuan yang menjadi kepala keluarga disebabkan oleh adanya adaptasi terhadap hasil dari dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang terus berubah seiring berjalannya waktu. Fenomena tersebut memunculkan tantangan baru yaitu seringkali terdapat diskriminasi dalam pembangunan yang menyebabkan pengakuan terhadap hak dan kekuasaan perempuan sebagai kepala keluarga lebih terbatas jika dibandingkan dengan laki-laki.
Rabu (16/04/25), menjadi kesempatan istimewa bagi mahasiswa S3 Prodi Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan, Sekolah Pascasarjana, UGM untuk mengikuti Kuliah Lapangan Lumbung Mataraman. Kegiatan ini diadakan sebagai upaya untuk mempersiapkan calon lulusan agar lebih siap dalam berkontribusi dalam pembangunan masyarakat berbasis inovasi, kepemimpinan, dan perubahan berkelanjutan. Kegiatan ini dilaksanakan di Kalurahan Guwosari, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul, DIY.
Lumbung Mataraman adalah program yang digagas untuk mendorong kemandirian pangan masyarakat sebagai antisipasi krisis angan. Lumbung Mataraman menjadi contoh nyata implementasi inovasi pertanian berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat, serta kepemimpinan berbasis kearifan lokal. Pemberdayaan masyarakat di Lumbung Mataraman bertujuan untuk membagikan pengetahuan (transfer knowledge) dengan melihat representatif masyarakat melalui kemitraan bersama dalam membangun ketahanan pangan menuju generasi emas. Selama mengikuti kuliah lapangan, mahasiswa diajak untuk mengobservasi inovasi, strategi komunikasi pembangunan, proses transformasi, resiliensi, dan perubahan masyarakat dengan adanya inovasi dan pengelolaan Lumbung Mataraman. Selain itu, mahasiswa juga diajak untuk menganalisis keberhasilan dan tantangan pengelolaan sumber daya lokal serta ketahanan pangan berbasis komunitas.
Tujuan pembangunan berkelanjutan khususnya poin nomor 5 (kesetaraan gender) tidak akan tercapai tanpa adanya komunikasi efektif untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat didalamnya. Salah satu caranya dapat dilakukan melalui pendekatan Theatre for Development (TfD) untuk membangkitkan partisipasi masyarakat. Sebagai medium komunikasi pembangunan, TfD didukung oleh adanya proximity dan kebutuhan hiburan yang bernuansa “lokal” sehingga menjadi modal awal untuk mensosialisasikan beragam isu pembangunan kepada masyarakat. Pendekatan TfD dalam masyarakat bisa dimanfaatkan untuk membedah sejarah budaya pada seni pertunjukan rakyat.
Setiap menjelang hari raya, fenomena pemulung dan pengemis musiman kembali menjadi sorotan publik karena jumlahnya yang tiba-tiba meningkat di berbagai kota besar di Indonesia. Mereka datang dari berbagai daerah, bermigrasi ke kota-kota besar dengan harapan memperoleh sedekah dari masyarakat yang sedang merayakan hari kemenangan. Meskipun hal ini tampak sebagai fenomena sosial tahunan, keberadaan mereka menimbulkan dilema sosial dan kebijakan, khususnya dalam konteks urbanisasi, kesejahteraan, dan pengelolaan ruang kota. Fenomena ini tidak hanya menyangkut aspek sosial dan ekonomi, tetapi juga beririsan langsung dengan upaya pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan 1 (tanpa kemiskinan), tujuan 8 (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi), dan tujuan 11 (kota dan permukiman yang berkelanjutan). Perlu dilakukan analisis mengenai penyebab dan dampak dari fenomena ini serta rekomendasi kebijakan berbasis SDGs untuk penanganannya.
Bulan suci Ramadhan menjadi momentum istimewa bagi umat muslim di seluruh dunia untuk meningkatkan keimanan, kepedulian sosial, dan rasa solidaritas antar sesama. Tak jarang selama bulan Ramadhan banyak dijumpai orang-orang berhati mulia yang melakukan aksi sosial dan berbagi kepada orang lain. Mereka seperti berbondong-bondong untuk menunaikan kebaikan di bulan suci ini. Bahkan hal tersebut seolah-olah sudah menjadi tradisi tahunan yang harus ditunaikan untuk menggugurkan kewajiban walaupun sebenarnya opsional.
Di era digital saat ini, pertanian bukan lagi sekadar soal menanam dan panen. Teknologi dan informasi telah mengubah wajah pertanian menjadi lebih modern dan efisien. Namun, bagaimana dengan para penyuluh pertanian yang menjadi ujung tombak dalam membawa perubahan ini ke tingkat petani? Literasi digital menjadi kunci untuk memastikan bahwa mereka tidak hanya memahami, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi secara maksimal.
Pentingnya Literasi Digital bagi Penyuluh Pertanian
Penyuluh pertanian memiliki peran penting sebagai penghubung antara pengetahuan teknis dan praktik di lapangan. Namun, di tengah arus perkembangan teknologi, banyak penyuluh yang masih menghadapi tantangan dalam mengadopsi teknologi digital. Literasi digital tidak hanya tentang kemampuan menggunakan perangkat, tetapi juga mencakup pemahaman, komunikasi, dan penerapan informasi digital dalam pekerjaan sehari-hari.
Yogyakarta (19/02/2025) Fakultas Pertanian dan Prodi Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan (PKP) Sekolah Pascasarjana UGM bersama University of Passau Jerman, menggelar workshop sebagai rangkaian pembuka kegiatan kerja sama dalam bidang pertanian digital. Workshop yang mengusung topik “Peningkatan Adopsi Platform Lentera DESA pada Petani Milenial dan Penyuluh Pertanian di Indonesia (LenteraDigiEx)” dapat menjadi sarana diskusi dan membawa perspektif baru mengenai solusi digital untuk mendukung kegiatan pelatihan dan penyuluhan pertanian. Workshop ini memiliki peran strategis dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4, yakni Quality Education (Pendidikan Berkualitas). SDG 4 menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan merata serta meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua orang, termasuk dalam sektor pertanian.
Kabupaten Buton Utara merupakan daerah yang kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk plasma nutfah pangan seperti padi berwarna organik, ubi kayu dan jagung. Plasma nutfah ini memiliki peran strategis dalam mendukung kemandirian pangan melalui diversifikasi komoditas yang adaptif terhadap lingkungan setempat. Ketidakpahaman petani akan nilai strategis komoditas lokal yang mereka kelola menjadi tantangan utama dalam pelestariannya. Saat ini telah terjadi hilangnya beberapa varietas pada padi berwarna organik. Hilangnya plasma nutfah dapat mempengaruhi produksi pertanian, keanekaragaman hayati, dan ketahanan pangan. Artikel ini mengulas pentingnya peran petani dalam mendukung keberlanjutan plasma nutfah pangan dan strategi yang dapat dilakukan untuk memperkuat peran tersebut.