Masalah sampah plastik terus menjadi sorotan global. Plastik sekali pakai, terutama botol dan kemasan air, telah mengakumulasi dampak lingkungan jangka panjang, seperti: polusi di darat dan laut, beban tambahan bagi tempat pembuangan akhir (TPA), serta konsumsi sumber daya dan energi yang besar dalam produksi. Salah satu solusi sederhana namun berdampak nyata adalah penggunaan tumbler atau botol minum/wadah minum yang dapat dipakai ulang.
Beberapa penelitian dan program di Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan tumbler dapat secara signifikan mengurangi sampah plastik. Dewasa ini tumbler bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan dapat menjadi representasi perubahan perilaku konsumsi menuju keberlanjutan.
- Sebuah studi dari Risqi et al. (2025), di kota Denpasar menunjukkan bahwa setelah siswa mulai rutin menggunakan tumbler, konsumsi botol air plastik mereka turun secara drastis. Semula dari rata-rata 2.618 botol per siswa per minggu menjadi hanya sekitar 1 botol per minggu. Analisis menunjukkan korelasi negatif moderat antara frekuensi penggunaan tumbler dan konsumsi botol plastik; setiap peningkatan penggunaan tumbler terkait dengan pengurangan 0,69 botol plastik per minggu.
- Di lingkungan kampus, inisiatif penggunaan tumbler sebagai pengganti kemasan sekali pakai juga dijalankan. Misalnya, sebuah program di kampus Universitas Serang Raya mendorong mahasiswa dan staf untuk memakai tumbler secara rutin dengan tujuan utama mengurangi volume sampah plastik di kampus. Hasil program menunjukkan peningkatan kesadaran serta perubahan perilaku yang mendukung gaya hidup lebih ramah lingkungan (Sunaryo, 2024).
- Di kalangan generasi muda, khususnya generasi Z, penggunaan tumbler tidak hanya dilihat sebagai alat praktis, tetapi juga sebagai bagian dari identitas konsumen yang peduli lingkungan. Penelitian konseptual menunjukkan bahwa tumbler dapat mendukung konsumsi dan produksi berkelanjutan, serta mendukung tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya target yang berkaitan dengan konsumsi dan produksi bertanggung jawab (Wulandari dan Suhud, 2025).

Penggunaan tumbler mendukung beberapa tujuan utama dalam SDGs, yaitu SDGs 3 (Good Health and Well-being), SDGs 12 (Responsible Consumption and Production), SDGs 13 (Climate Action), SDGs 14 (Life Below Water), dan SDGs 15 (Life on Land). Dengan mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai, tumbler membantu menekan produksi limbah plastik dan konsumsi sumber daya tidak terbarukan. Di sisi lain, produksi plastik sekali pakai memerlukan energi dan menghasilkan emisi gas rumah kaca. Dengan memperpanjang umur pakai melalui tumbler, maka jejak karbon dari produksi dan pembuangan plastik dapat dikurangi. Berkurangnya sampah plastik dapat mengurangi risiko pencemaran laut dan darat, sehingga membantu melindungi ekosistem akuatik dan daratan karena sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik dapat mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia serta makhluk hidup. Dengan kata lain, pengurangan plastik membantu menjaga kualitas lingkungan hidup.

Meskipun penggunaan tumbler memiliki manfaatnya nyata, masih terdapat ada beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan agar penggunaan tumbler benar-benar efektif. Pertama, diperlukan konsistensi pemakaian, tujuannya agar tumbler lebih ramah lingkungan daripada plastik sekali pakai, tumbler harus digunakan berkali-kali, dan tidak justru menjadi “koleksi” yang jarang dipakai. Kedua, perlu didukung juga dengan infrastruktur pendukung yang memadai, seperti akses ke air minum isi ulang di sekolah, kampus, kantor, atau ruang publik. Ketiga, harus memiliki kesadaran dan digencarkan edukasi mengenai lingkungan. Masih banyak orang yang perlu disadarkan bahwa pilihan wadah minum ternyata membawa dampak jangka panjang, serta diarahkan untuk mengadopsi gaya hidup berkelanjutan.
Sebagai wadah minum yang dapat digunakan berulang kali, tumbler merupakan contoh konkret bagaimana tindakan pribadi sehari-hari dapat mendukung keberlanjutan lingkungan. Tentu, tumbler bukanlah solusi tunggal bagi krisis plastik global, tetapi ia mewakili pintu masuk bagi perubahan budaya konsumsi. Dengan dukungan edukasi, kebijakan, dan akses infrastruktur, tumbler bisa menjadi bagian penting dari gaya hidup berkelanjutan di kampus, sekolah, komunitas, bahkan masyarakat luas.
Penulis dan Reviewer: Tim Prodi PKP Pascasarjana UGM