Aktivitas lari telah lama dikenal sebagai salah satu bentuk olahraga paling sederhana, murah, dan efektif untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Penelitian medis menunjukkan bahwa lari secara teratur merupakan bentuk aktivitas intensitas tinggi yang bermanfaat bagi sistem kardiovaskular, memperkuat otot jantung, meningkatkan VO2max (kapasitas penggunaan oksigen), serta memperbaiki sirkulasi darah dan fungsi paru-paru (Austin, 2024). Dalam konteks kesehatan publik, manfaat ini relevan dengan SDGs Tujuan 3 (Good Health and Well-being) yang mendorong gaya hidup sehat dan pencegahan penyakit tidak menular melalui olahraga teratur.
Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena yang dikenal sebagai “pelari kalcer” telah menjadi ciri khas budaya lari di kalangan anak muda, terutama generasi Z di Indonesia. Istilah ini mengacu pada pelari yang tidak hanya fokus pada performa lari, tetapi juga menjadikan aktivitas ini sebagai bagian dari ekspresi gaya hidup visual dan sosial di media digital, seperti dengan memamerkan rute lari estetik, outfit estetik, dan terutama sepatu lari terbaru (Susilowati, 2025). Fenomena ini menunjukkan transformasi lari dari sekadar olahraga menjadi praktik budaya yang sarat makna sosial dan identitas gaya hidup (Manurung et al., 2025).
Meski sebagian kritik menilai tren pelari kalcer hanya berkutat pada gaya dan pencitraan, karena fokus pada outfit kekinian dan postingan media sosial, nilai positif dari fenomena ini tak bisa diabaikan. Partisipasi dalam aktivitas lari telah mendorong lebih banyak individu untuk bergerak secara konsisten, yang secara ilmiah terbukti bermanfaat bagi kesehatan jantung, metabolisme, serta stabilitas mental dengan mengurangi risiko stres dan depresi melalui aktivitas fisik yang teratur (Austin, 2024). Hal ini selaras dengan target SDGs yang ingin meningkatkan kesehatan masyarakat secara menyeluruh melalui pola hidup aktif.

Tren sepatu running turut menjadi bagian penting dalam cerita ini. Perkembangan teknologi sepatu lari tidak hanya soal estetika, tetapi juga tentang inovasi yang memengaruhi biomekanika lari dan risiko cedera. Penelitian modern menunjukkan bahwa sepatu dengan fitur teknologi canggih dapat mengurangi faktor biomekanik yang berkontribusi pada risiko cedera dan meningkatkan efisiensi berlari pada pelari rekreasional (Kim and Ahn, 2025). Sementara itu, ulasan sistematik terhadap puluhan model sepatu lari menegaskan bagaimana desain footwear memengaruhi konsumsi energi, pola gerak, dan respons biomekanik tubuh saat berlari (Alias et al., 2023). Namun, pemilihan sepatu harus tetap mempertimbangkan kebutuhan individual, karena aplikasi satu desain sepatu tidak selalu cocok untuk semua orang (Pratama et al., 2025).
Dari perspektif kesehatan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan, kolaborasi antara tren olahraga populer seperti pelari kalcer dengan edukasi yang benar tentang latihan yang aman, pemilihan sepatu yang tepat, dan teknik berlari yang baik dapat memperluas dampak positif pada populasi luas. Hal ini penting untuk menyasar target SDGs yang ingin menurunkan prevalensi penyakit tidak menular melalui pencegahan primer, yakni dengan mendorong masyarakat bergerak lebih aktif dan cerdas. Selain itu, komunitas lari yang berkembang juga berpotensi memperkuat jejaring sosial, dukungan mental, dan kebersamaan dalam masyarakat melalui aspek yang mendukung kesejahteraan psikososial yang juga bagian dari SDGs.
Penulis dan Reviewer: Tim Prodi PKP Pascasarjana UGM