Perempuan memainkan peran yang sangat beragam dalam kehidupan sehari-hari, sebagai anak, istri, ibu, pekerja, teman, dan anggota masyarakat yang aktif. Di Indonesia khususnya, fenomena multiperan ini mencerminkan realitas sosial yang kompleks. Perempuan tidak hanya terlibat dalam dunia kerja formal, tetapi juga secara signifikan berperan dalam pekerjaan rumah tangga yang tidak dibayar. Seorang perempuan dapat berperan sebagai anak yang tetap mendukung keluarga asalnya, sekaligus menjadi istri dan ibu yang hadir bagi keluarganya sendiri, sambil tetap menjalankan tanggung jawab profesional di tempat kerja. Realitas seperti “bangun lebih pagi dari anggota keluarga lain untuk menyiapkan rumah, lalu bekerja penuh waktu, dan tetap mengurus anak di malam hari” masih banyak ditemui, terutama di wilayah perkotaan. Fenomena ini menunjukkan bahwa struktur sosial dan ekonomi menempatkan perempuan dalam peran yang luas dan kompleks, yang tidak jarang menuntut energi emosional dan fisik yang tinggi. Dari berbagai studi di Indonesia, perempuan pekerja sering mengalami kesulitan dalam membagi waktu antara pekerjaan profesional dan tanggung jawab keluarga, yang berdampak pada keseimbangan work-life mereka. Hal ini terlihat dalam laporan penelitian yang menemukan bahwa ketidakseimbangan kehidupan kerja berpengaruh pada kepuasan kerja dan kinerja perempuan dalam industri ritel dan instansi pemerintah (Rukmana & Winarno, 2023).
Fenomena kerja dan keluarga ini sering disebut sebagai double burden atau beban ganda karena perempuan diharapkan mengelola peran publik dan domestik secara bersamaan. Studi sosiologis menyebutkan bahwa perempuan pekerja tetap memikul tanggung jawab utama dalam pekerjaan rumah tangga meskipun mereka juga bekerja di sektor publik, yang menciptakan konflik peran yang signifikan (Barokah, 2026). Kondisi ini bukan hanya isu lokal, tetapi juga menjadi perhatian global. Laporan berita internasional yang ditulis oleh Sarah Johnson dalam The Guardian (2025) menegaskan bahwa perempuan rata-rata bekerja lebih banyak, termasuk pekerjaan tanpa bayaran seperti perawatan keluarga. UN Women (2023) mencatat bahwa partisipasi perempuan dalam dunia kerja memberi kontribusi signifikan pada pertumbuhan ekonomi, meskipun mereka masih menghadapi beban kerja domestik yang tidak berbayar lebih besar dibandingkan dengan laki-laki. Namun, penting digarisbawahi bahwa apresiasi terhadap multiperan perempuan tidak berarti merendahkan peran laki-laki. Sebaliknya, hal ini mengajak masyarakat melihat bahwa kontribusi setiap gender memiliki tempat dan nilai yang sama pentingnya.

Fenomena ini erat kaitannya dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada SDG 5 (Gender Equality) dan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth). SDG 5 menekankan pentingnya penghapusan diskriminasi dan ketidaksetaraan gender dalam semua aspek kehidupan, termasuk pembagian peran domestik dan kesempatan kerja yang setara. Sementara itu, SDG 8 mendorong terciptanya pekerjaan yang layak dan produktif bagi semua, termasuk kebijakan yang mendukung keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi. Pendekatan ini tidak hanya menguntungkan perempuan secara individu, tetapi juga bermanfaat bagi keluarga dan kemajuan ekonomi masyarakat luas.
Relevansi multiperan perempuan juga dilihat dalam berbagai studi ilmiah yang mengkaji hubungan antara work-life balance dan kualitas hidup perempuan. Sebuah analisis bibliometrik terbaru menegaskan bahwa work-life balance tetap menjadi isu penting dalam literatur ilmiah global, di mana perempuan sering kali harus menghadapi peran profesional dan pribadi secara bersamaan meskipun di kondisi kerja modern (Baba et al., 2025). Selain itu, penelitian di Indonesia tentang pengalaman dosen perempuan selama pandemi juga menunjukkan bahwa tuntutan karir dan pekerjaan rumah tangga sering bertumpuk, yang memengaruhi kesejahteraan mereka secara menyeluruh (Fidrayani et al., 2024).
Meski realitas ini penuh tantangan, penting untuk melihat multi peran perempuan bukan semata sebagai beban, tetapi juga sebagai kekuatan yang memberi perempuan ruang untuk terus berkembang. Dukungan sosial, pembagian kerja domestik yang lebih adil, dan kebijakan tempat kerja yang sensitif gender dapat membantu perempuan mencapai keseimbangan yang lebih sehat antara berbagai peran mereka. Bagi masyarakat, pesan utamanya sederhana namun kuat, setiap peran yang dijalani perempuan, mulai dari ibu hingga profesional, memiliki nilai yang layak dihargai dan dibantu oleh sistem sosial yang mendukung kesetaraan serta kesejahteraan bersama.
Penulis dan Reviewer: Tim Prodi PKP Pascasarjana UGM