• UGM
  • SPs UGM
  • Library
  • IT Center
  • Webmail
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan
Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Visi, Misi dan Tujuan
      • Program Magister
      • Program Doktor
    • Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan
      • Tenaga Pendidik Program Magister
      • Tenaga Pendidik Program Doktor
      • Tenaga Kependidikan
    • Fasilitas
    • Laboratorium
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
      • Prosedur Pendaftaran
      • Syarat Pendaftaran
      • Biaya Pendidikan
    • Rekognisi Akademis
  • Akademik
    • Program Magister
      • Profil Lulusan Program Magister
      • Capaian Pembelajaran Lulusan
      • Peta Kurikulum
      • Mata Kuliah
      • Modul Pegangan Mata Kuliah
      • Seminar Proposal
      • Ujian Komprehensif
      • Seminar Hasil
      • Ujian Tesis
    • Program Doktor
      • Profil Lulusan
      • Capaian Pembelajaran Lulusan
      • Peta Kurikulum
      • Mata Kuliah
      • Modul Pegangan Mata Kuliah
      • Seminar Proposal
      • Ujian Komprehensif
      • Seminar Hasil
      • Ujian Disertasi
    • Kalender Akademik
    • Panduan Akademik
    • Perpustakaan
    • ELOK (e-Learning: Open for Knowledge Sharing)
    • SIMASTER
  • Penelitian
    • Publikasi
    • Kelompok Penelitian
  • Pengabdian
    • Pengabdian kepada Masyarakat
  • Kemahasiswaan & Alumni
    • Prestasi Mahasiswa
    • Informasi Beasiswa
    • Alumni
    • KAGAMA
    • Lowongan Pekerjaan
    • Tracer Study
  • Kontak
  • Unduh
    • Dokumen Akreditasi S2
    • Dokumen Akreditasi S3
  • Beranda
  • Berita
  • Komoditas Sederhana yang Diam-Diam Menopang Kehidupan

Komoditas Sederhana yang Diam-Diam Menopang Kehidupan

  • Berita, Howdy SDGs!
  • 20 Agustus 2026, 14.08
  • Oleh: pkp.pasca
  • 0

Ketika berbicara tentang komoditas pertanian yang berperan penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, perhatian sering kali tertuju pada beras. Padahal, ada satu komoditas lain yang keberadaannya hampir selalu hadir dalam berbagai aspek kehidupan, tetapi sering luput dari perhatian, yaitu jagung. Bagi sebagian masyarakat, jagung memang dikenal sebagai bahan pangan pengganti nasi atau camilan tradisional. Namun, di balik itu, peran jagung jauh lebih luas. Komoditas ini menjadi bahan baku industri pakan ternak, makanan dan minuman, farmasi, hingga berbagai produk berbasis pati seperti maizena, sirup glukosa, minyak jagung, dan bioetanol. Artinya, tanpa disadari, banyak produk yang kita gunakan atau konsumsi setiap hari memiliki keterkaitan dengan jagung. Hal inilah yang membuat jagung menjadi salah satu komoditas strategis yang berpengaruh terhadap ketahanan pangan sekaligus perkembangan industri di Indonesia.

Peran penting jagung juga tercermin dari besarnya produksi nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada tahun 2024 mencapai sekitar 15,14 juta ton, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan bahwa jagung masih menjadi komoditas yang memiliki prospek baik dan terus dibutuhkan oleh berbagai sektor. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri, permintaan jagung juga terus tumbuh seiring berkembangnya industri peternakan dan pengolahan pangan. Bahkan, menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), jagung merupakan salah satu tanaman serealia terpenting di dunia karena mampu menyediakan bahan pangan, pakan, dan bahan baku industri secara bersamaan. Fleksibilitas pemanfaatan inilah yang membuat jagung memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus menjadi penyangga berbagai rantai pasok yang saling terhubung.

Realitas di masyarakat menunjukkan bahwa manfaat jagung sering kali hadir tanpa benar-benar disadari. Misalnya, ketika seseorang membeli telur, daging ayam, atau produk olahan unggas lainnya, harga produk tersebut sangat dipengaruhi oleh harga pakan ternak, yang sebagian besar tersusun dari jagung. Ketika harga jagung meningkat akibat gagal panen atau terganggunya distribusi, biaya produksi peternak ikut naik sehingga harga produk peternakan di pasaran juga berpotensi mengalami kenaikan. Di sisi lain, banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memanfaatkan jagung sebagai bahan baku untuk menghasilkan berbagai produk bernilai tambah, mulai dari emping jagung, tortilla, jagung pipil siap saji, popcorn, susu jagung, hingga aneka makanan ringan khas daerah. Tidak sedikit pula kelompok tani maupun kelompok wanita tani yang mengembangkan usaha olahan jagung sebagai sumber pendapatan tambahan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa jagung bukan sekadar hasil panen, melainkan bagian dari aktivitas ekonomi yang melibatkan banyak pelaku, mulai dari petani, pedagang, industri pengolahan, hingga konsumen.

Di balik potensinya yang besar, pengembangan komoditas jagung juga menghadapi sejumlah tantangan. Dari sisi positif, jagung memiliki kemampuan adaptasi yang cukup baik di berbagai kondisi lahan dan iklim tropis, siklus tanamnya relatif singkat, serta memiliki pasar yang luas dengan permintaan yang cenderung stabil. Hal ini menjadikan jagung sebagai salah satu pilihan usahatani yang menjanjikan bagi banyak petani di Indonesia. Namun, kenyataannya tidak semua petani dapat menikmati keuntungan secara optimal. Perubahan iklim menyebabkan pola musim tanam menjadi semakin sulit diprediksi, sehingga risiko gagal panen akibat kekeringan atau curah hujan ekstrem semakin meningkat. Selain itu, serangan organisme pengganggu tanaman, fluktuasi harga ketika panen raya, tingginya biaya produksi, hingga keterbatasan akses terhadap teknologi budidaya dan fasilitas pascapanen masih menjadi tantangan yang sering dijumpai di lapangan. Di beberapa daerah, hasil panen juga masih mengalami kehilangan kualitas karena proses pengeringan dan penyimpanan yang belum optimal. Oleh sebab itu, peningkatan produktivitas sebaiknya tidak hanya diukur dari banyaknya hasil panen, tetapi juga dari kualitas produk, efisiensi usahatani, dan kemampuan menciptakan nilai tambah melalui pengolahan hasil.

Perkembangan teknologi pertanian membuka peluang baru untuk mengoptimalkan potensi jagung secara lebih berkelanjutan. Saat ini, penggunaan benih unggul, mekanisasi pertanian, sistem irigasi yang lebih efisien, pemanfaatan drone untuk pemantauan lahan, hingga teknologi pertanian presisi mulai diperkenalkan di berbagai wilayah (Gyamfi et al., 2024). Digitalisasi juga membantu petani memperoleh informasi mengenai cuaca, harga pasar, hingga teknik budidaya yang lebih efektif. Selain meningkatkan produktivitas, inovasi tersebut diharapkan mampu mengurangi kehilangan hasil panen sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, air, dan pestisida. Di sisi hilir, pengembangan industri pengolahan berbasis jagung juga membuka peluang terciptanya berbagai produk inovatif dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan menjual jagung dalam bentuk bahan baku. Dengan demikian, manfaat ekonomi dari komoditas jagung dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Apabila dikaitkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), pengembangan komoditas jagung memiliki kontribusi terhadap beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan. SDG 2 (Zero Hunger) menekankan pentingnya menjaga ketahanan pangan melalui peningkatan produktivitas pertanian yang berkelanjutan. Jagung sebagai salah satu sumber karbohidrat sekaligus bahan baku utama pakan ternak berperan penting dalam mendukung ketersediaan pangan. Selanjutnya, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) tercermin melalui terbukanya lapangan kerja di sektor budidaya, distribusi, hingga industri pengolahan jagung. Pengembangan inovasi dan hilirisasi produk jagung juga sejalan dengan SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), sedangkan penerapan praktik budidaya yang efisien serta pemanfaatan hasil panen secara optimal mendukung tercapainya SDG 12 (Responsible Consumption and Production). Dengan kata lain, pengembangan jagung tidak hanya berbicara mengenai peningkatan hasil panen, tetapi juga mengenai bagaimana menciptakan sistem pertanian yang produktif, tangguh, dan memberikan manfaat ekonomi, sosial, serta lingkungan secara seimbang.

Pada akhirnya, jagung merupakan contoh nyata bahwa sebuah komoditas pertanian dapat memiliki peran yang jauh lebih besar daripada yang tampak di permukaan. Keberadaannya tidak hanya penting bagi petani, tetapi juga bagi industri, pelaku usaha, hingga masyarakat sebagai konsumen. Potensi yang dimiliki jagung akan semakin optimal apabila didukung oleh kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan petani dalam mengembangkan inovasi, memperkuat kemitraan, serta membangun rantai pasok yang lebih efisien. Dengan pendekatan tersebut, jagung tidak hanya menjadi komoditas unggulan, tetapi juga salah satu fondasi penting dalam mewujudkan sistem pangan yang tangguh, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

 

Penulis dan Reviewer: Tim Prodi PKP Pascasarjana UGM

Tags: Pascasarjana UGM Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab SDG 2: Tanpa Kelaparan SDG 8: PEKERJAAN LAYAK DAN PERTUMBUHAN EKONOMI SDG 9: Industri Inovasi dan Infrastruktur SDGs

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA
Jl. Teknika Utara, Pogung Yogyakarta – 5581
Telp : (0274) 544975, 564239 Fax : (0274) 547861, 564239
  pkp.pasca@ugm.ac.id
  @pkp.pasca.ugm
  +628112630752

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY