Tuntutan pekerjaan dan pembelajaran yang semakin dinamis membuat banyak orang akrab dengan istilah burnout, overwhelmed, atau merasa “kehabisan energi”. Deadline yang datang bersamaan, tugas yang terus bertambah, hingga tuntutan untuk selalu produktif sering kali memicu stres apabila tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola diri. Dalam kondisi seperti ini, coping mechanism menjadi salah satu keterampilan hidup yang penting. Coping mechanism merupakan cara seseorang merespons dan mengelola tekanan agar tetap mampu beradaptasi tanpa mengorbankan kesehatan fisik maupun mental. Menurut World Health Organization (2024), kemampuan mengelola stres merupakan bagian penting dari kesehatan mental yang mendukung individu untuk belajar, bekerja, dan berkontribusi secara optimal di lingkungannya.
Fenomena tersebut semakin mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa, misalnya, sering kali harus menyelesaikan berbagai tugas, mengikuti organisasi, dan mempersiapkan ujian dalam waktu yang bersamaan. Di dunia kerja, tidak sedikit karyawan yang menghadapi target tinggi, perubahan kebijakan yang cepat, atau tuntutan untuk selalu responsif terhadap berbagai persoalan. Tidak semua tekanan dapat dihindari, tetapi cara seseorang menyikapinya akan sangat menentukan dampaknya. Sebagian orang memilih menyusun prioritas pekerjaan, beristirahat sejenak ketika mulai kehilangan fokus, atau berdiskusi dengan teman dan rekan kerja. Sebaliknya, ada pula yang memendam tekanan sendirian hingga akhirnya kesulitan berkonsentrasi, kehilangan motivasi, bahkan mengalami kelelahan emosional. Kondisi ini menunjukkan bahwa memiliki coping mechanism yang sehat sama pentingnya dengan memiliki kemampuan akademik maupun kompetensi profesional.

Berbagai penelitian menjelaskan bahwa strategi coping yang adaptif, seperti problem-focused coping (berfokus pada penyelesaian masalah), emotion-focused coping yang sehat (misalnya mengelola emosi melalui relaksasi atau refleksi), menjaga pola tidur, berolahraga, serta membangun dukungan sosial, dapat membantu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kesejahteraan psikologis. Sebaliknya, strategi yang maladaptif, seperti menunda pekerjaan secara berlebihan, mengisolasi diri, atau melampiaskan emosi secara destruktif, justru berpotensi memperburuk kondisi. Oleh karena itu, mengelola tekanan bukan berarti menghilangkan semua tantangan, melainkan membangun kemampuan untuk tetap tenang, berpikir jernih, dan mengambil keputusan yang tepat ketika menghadapi situasi yang sulit (American Psychological Association, 2024).
Pentingnya coping mechanism juga selaras dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 (Good Health and Well-being) yang mendorong terciptanya kesehatan dan kesejahteraan bagi semua, serta SDG 4 (Quality Education) dan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) yang menekankan pentingnya lingkungan belajar dan bekerja yang mendukung produktivitas secara berkelanjutan. Ketika individu mampu mengelola tekanan dengan cara yang sehat, mereka memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan kualitas belajar, meningkatkan kinerja, serta membangun hubungan sosial yang positif. Tekanan memang merupakan bagian dari kehidupan, tetapi setiap tantangan juga dapat menjadi kesempatan untuk bertumbuh. Memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat, meminta bantuan ketika diperlukan, dan terus belajar mengenali batas kemampuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri agar dapat terus melangkah dengan lebih kuat dan berkelanjutan.
Penulis dan Reviewer: Tim Prodi PKP Pascasarjana UGM